Rabu, 21 November 2012

tokoh dan penokohan dalam kajian fiksi



BAB I
PENDAHULUAN

a.     Latar belakang
fiksi merupkan salah satu bentuk karya yang kreatif, maka bagaimana pengarang mewujudkan dan mengembangkan tokoh-tokoh ceritanya pun tidak lepas dari kebebasan kretifitasnya. Fiksi mengandung dan menawarkan model kehidupan seperti yang disikapi dan dialami oleh tokoh-tokoh cerita sesuai dengan pandangan pengarang terhadap kehidupan itu sendiri. Oleh karenanya pengarang sengaja menciptakan dunia dalam fiksi, ia mempunyai kebebasan penuh untuk menampilkan tokoh-tokoh cerita sesuai dengan seleranya, siapapun orangnya, apapun status sosialnya bagaimana pun perwatakanya, dan permasalahan apapun yang dihadapinya, singkatnya pengarang berhak menampilkan tokoh, siapapun dia orangnya walau hal itu berbeda dengan dunianya sendiri di dunia nyata
tokoh cerita mempunyai tempat strategis sebagai pembawa dan penyampai pesan, amanat, moral ataupun sesuatu yang sengaja ingin disampaikan kepada pembaca. Keadaan ini juga sering berakibat kurang menguntungkan para tokoh cerita itu sendiri  dilihat dari segi kewajaranya dalam segi bersikap dan bertindak. Tidak jarang tokoh-tokoh cerita dipaksa dan diperalat sesbagai pembawa pesan sehingga sebagai tokoh cerita dan sebagai pribada kurang berkembang. Secara ekstern boleh dikatakan, mereka hanya sebagai robot yang selalu tunduk kepada kemauan   pengarang dan kepribadianya sendiri.
Relitas kehidupan manusia memang perlu dipertimbangkan dalam kaitanya dengan kehidupan tokoh cerita. Namun haruslah disadari bahwa hubungan itu tidaklah bersifat sederhana, melainkan bersifat komlpleks, sekompleks berbagai macam kehidupan itu sendiri.  




b.     Tujuan penulisan

1.      Memaparkan pengertian tentang tokoh dan penokohan dalam kajian fiksi
2.      Memberikan gambaran tentang unsur-unsur penokohan dalam fiksi
3.      Memberikan pemahaman tentang pembedaan penokohan dan teknik-teknik yang ada dalam melukiskan penokohan


















BAB II
PEMBAHASAN
PENOKOHAN


1.      UNSUR PENOKOHAN DALAM FIKSI
Sama halnya dengan unsur plot dan pemplotan, tokkoh dan penokhan merupakan unsur yang penting dalam karya naratif, plot boleh saja dipandang sebagai tulang punggung cerita namun kita pun dapat mempersoalkan siapa yang diceritakan itu ? siapa yang melakukan sesuatu dan dikenai sesuatu ? yang dalam plot disebut sebagai peristiwa, siapa pembuat konflik dan lain-lain, tidak lain semua itu adalah urusan tokoh dan penokohan, berbicara mengenai tokoh dengan segala perwatakan dengan berbagai citra jati dirinya, dalam banyak hal lebih menarik perhatian orang daripada berurusan dengan pemplotanya. Namun hal itu tidak berarti unsur plot dapat diabaikan begitu saja karena kejelasan mengenai tokoh dan penokohan dalam banyak hal tergantung pada pemplotanya
a.     Pengertian dan hakikat penokohan
Dalam pembicaraan suatu fiksi sering digunakan istilah seperti tokoh dan penokohan, watak dan perwatakan atau karakter dan karakterisasi, serta bergantian dengan menunjuk pengertian yang hampir sama istilah tersebut sebenarnya tidak menyarankan pada istilah yang persis sama akan tetapi ada perbedaan makna dari masing-masing istilah tersebut
Istilah tokoh menunjukkan pada orangnya, pelaku cerita misalnya sebagai jawaban dari pertanyaan yang ada “ siapa tokoh utama novel itu ? “ “ atau siapakah tokoh protagonis dan antagonis dalam novel itu “ tentu semua itu dikaji dalam pembahasan tokoh dan penokohan pada teori fiksi watak, perwatakan dan karakter menunjukkan pada sifat para tokoh seperti yang telah ditafsirkan oleh pembaca, lebih menunjuk pada kualitas pribadi seorang tokoh. Penokohan dan karakterisasi sering juga diartikan sebagai karakter dan perwatakan mennjuk pada penempatan tokoh-tokoh tertentu dengan watak-watak tertentu dalam sebuah cerita atau seperti yang telah dikatakan oleh ( jones, 1968 : 33 ) penokohan  adalah sesuatu gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita
-         Pengertian tokoh
Menurut Aminudin (2002: 79) tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita. Istilah tokoh mengacu pada orangnya, pelaku cerita (Nurgiyantoro, 1995: 165). Tokoh adalah salah satu unsur yang penting dalam suatu novel atau cerita rekaan.
Menurut Sudjiman (1988: 16) tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan di dalam berbagai peristiwa cerita. Tokoh pada umumnya berwujud manusia, tetapi dapat juga berwujud binatang atau benda yang diinsankan.
Menurut Abrams (dalam Nurgiyantoro 1995:165) tokoh cerita merupakan orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama oleh pembaca kualitas moral dan kecenderungan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan dilakukan dalam tindakan. Berdasarkan pengertian di atas dapat dikatakan bahwa tokoh cerita adalah individu rekaan yang mempunyai watak dan perilaku tertentu sebagai pelaku yang mengalami peristiwa dalam cerita.
-         Pengertian penokohan  
Penokohan dan perwatakan adalah pelukisan mengenai tokoh cerita, baik keadaan lahirnya maupun batinnya yang dapat berubah, pandangan hidupnya, sikapnya, keyakinannya, adat istiadatnya, dan sebagainya.
Menurut Jones dalam Nurgiyantoro (1995:165) penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita.
Menurut Sudjiman (1988:22) watak adalah kualitas nalar dan jiwa tokoh yang membedakannya dengan tokoh lain.
Penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh ini yang disebut penokohan. Penokohan dan perwatakan sangat erat kaitannya. Penokohan berhubungan dengan cara pengarang menentukan dan memilih tokoh-tokohnya serta memberi nama tokoh tersebut, sedangkan perwatakan berhubungan dengan bagaimana watak tokoh-tokoh tersebut. Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat dikatakan bahwa penokohan adalah penggambaran atau pelukisan mengenai tokoh cerita baik lahirnya maupun batinnya oleh seorang pengarang.

b.     Penokohan dan unsur cerita yang lain
Fiksi merupakan sebuah keseluruhan yang utuh mempunyai ciri artistik keutuhan dan keartistikan fiksi justru terletak pada keterjalinanya yang erat pada berbagai unsur pembangunanya, penokohan sendiri merupakan unsur yang bersama dengan unsur-unsur yang lain yang kemudian membentuk suatu totalitas namun perlu dicatat penokohan merupakan unsur yang penting dalam fiksi ia merupakan salah satu fakta cerita disamping kedua fakta cerita yang lain dengan demikian penokohan mempunyai peranan yang besar dalam menentukan keutuhan dan keartistikan sebuah fiksi.
Penokohan sebagai salah satu unsur pembangunan fiksi dapat dikaji dan dianalisis keterjalinanya dengan unsur-unsur pembangun lainya, jika fiksi yang bersangkutan merupakan sebuah karya yang berhasil, penokohan pasti terjalin secara harmonis dan saling melengkapi satu sama lain.
c.     Relevansi tokoh
Ketika berhadapan dengan tokoh-tokoh fiksi, pembaca sering membrikan reaksi emotif tertentu, seperti rasa akrap, simpati, empati, benci ataupun rekasi-reaksi yang lainya pembaca tak jarang mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh yang diberinya rasa simpati dan empati. Segala sesuatu yang dirasakan dan dialami oleh tokoh, yang menyenangkan atau menyedihkan seolah-olah ikut dirasakan dan dialami oleh pembaca bahkan banyak tokoh cerita yang menjadi idaman pembaca sehingga kehadiran tokoh di dalam cerita seolah-olah hadir dalam dunia nyata. Seolah pembaca telah merasa akrap betul dengan tokoh itu, ataubahkan telah menjadi bagian hidupnya walau secara fisik tidak akan pernah dapat menginderanya tokoh cerita yang diperlakukan denikian oleh pembaca apakah berarti ia relevan ? 
Ada beberapa bentuk relevansi seorang tokoh cerita seorang tokoh cerita yang merupakan ciptaan pengarang itu jika disukai banyak orang dalam kehidupan nyata, apalagi jika sampai dipuja dan dikagumi berarti merupakan tokoh yang relevansi ( Kenny 1966 : 27 ) salah satu bentuk relevansi tokoh seiring dihubungkan dengan  kesepertihidupan, lifelikennes seorang tokoh cerita dianggap relevan bagi para pembaca ataupun relevan dengan pengalaman hidup kita, jika ia seperti kita atau orang lain yang kita ketahui, kita sering mengharapkan tokoh yang denikian. Namun sebenarnya hal itu tidak saja membatasi kreatifitas imajinasi pengarang juga melupakan fungsi tokoh sebagai salah satu elemen fiksi. Pengarang mempunyai kebebasan menciptakan tokoh yang bagaimana pun dengan hanya merasa terikat bahwa tokohnya relevan dengan pengalaman kehidupanya  sendiri dan mungkin pembaca.oleh karena itu, dalam kaitanya dengan relevansi ini pertanyaan yang diajukan tidak berbunyi “ apakah tokoh cerita itu seperti kita ? “ melainkan apakah relevansi tokoh itu bagi kita
Jika dengan kriteria kesehidupan pengalaman tokoh cerita dengan pengalaman kehidupan kita dianggap sebagai bentuk relevansi, bagaimanakah halnya dengan tokoh-tokoh yang aneh yang lain daripada yang lain ? misalnya tokoh orang tua dalam stasiun. Atau tokoh aku dalam telegram apakah mereka dianggap tidak relevan ? 
Didunia ini memang tidak banyak atau bahkan sedikit kemungkinanya ada orang yang seperti mereka. Namun hal yang sedikit itu bukan berarti tidak ada, walau hanya kecil kemungkinanya bahkan sebenarnya mungkin ada sisi-sisi tertentu dari kehidupan tokoh-tokoh aneh tersebut yang juga terdapat pada diri kita walaupun kita sendiri juga tidak menyadari jika kita merasakan keadan itu dalam pengalaman diri kita hal itu berarti ada relevansi pada tokoh tersebut hal inilah yang merupakan bentuk relevansi yang kedua ( Kenny, 1966 : 27 )
Relevansi tokoh dan penokohan harus dilihat dalam kaitanya dengan berbagai unsur yang lain dan perananya dalam cerita keseluruhan. Tokoh memang unsur yang terpenting dalam karya fiksi, namun bagaimanapun ia masih terikat oleh unsur-unsur yang lain, bagaimana jalinanya dan bentuk keterikatan unsur tokoh dengan unsur yang lain dalam sebuah fiksi perlu ditinjau satu persatu, jika tokoh memang berjalan erat dan saling melengkapi dan menentukan dengan unsur-unsur lain dalam membentuk keutuhan yang artistik, tokoh mempunyai bentuk relevansi dengan cerita secara keseluruhan
2.      PEMBEDAAN TOKOH
Tokoh-tokoh cerita dalam sebuah fiksi dapat dibedakan kedalam beberapa jenis penamaan berdasarkan dari sudut mana penamaan itu dilakukan, berdasarkan perbedaan sudut pandang dan tinjauan, seorang tokoh dapat saja dikategorikan kedalam beberapa jenis penamaan sekaligus, diantaranya
a.     Tokoh utama dan tokoh tambahan
Ketika membaca sebuah novel biasanya kita akan dihadapkan pada sejumlah toko yang dihadirkan di dalamnya, namun dalam kaitanya dalam keseluruhan cerita peranan masing-masing tokoh tersebut tidak sama dilihat dari segi peranan atau tingkat pentingnya tokoh dalam sebuah cerita, ada tokoh yang tergolong penting dan ditampilkan secara terus menerus sehingga terasa mendominasi sebagian besar cerita dan juga sebaliknya ada juga tokoh yang hanya dimunculkan sekali atau beberapa kali dalam cerita dan itupun dalam porsi penceritaan yang relative pendek. tokoh yan disebut pertama adalah tokoh utama cerita ( central character, main character )
Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaanya dalam sebuah cerita yang bersangkutan, ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian.
Menurut Sudjiman (1988:17-18) berdasarkan fungsi tokoh dalam cerita dapat dibedakan tokoh sentral dan tokoh bawahan. Tokoh yang memegang peran pemimpin disebut tokoh utama atau protagonis. Protagonis selalu menjadi tokoh yang sentral dalam cerita, ia bahkan menjadi pusat sorotan dalam kisahan.
Menurut Nurgiyantoro (1995:176) berdasarkan peranan dan tingkat pentingnya, tokoh terdiri atas tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaanya dalan novel yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Tokoh tambahan kejadiannya lebih sedikit dibandingkan tokoh utama. Kejadiannya hanya ada jika berkaitan dengan tokoh utama secara langsung.
Tokoh utama dapat saja hadir dalam setiap kejadian dan dapat ditemui dalam tiap halaman buku cerita yang bersangkutan, tetapi tokoh utama juga bisa tidak muncul dalam setiap kejadian atau tidak langsung ditunjuk dalam setiap bab, namun ternyata dalam kejadian atau bab tersebut tetap erat kaitannya, atau dapat dikaitkan dengan tokoh utama. Tokoh utama dalam sebuah novel, mungkin saja lebih dari seorang, walau kadar keutamaannya tidak selalu sama. Keutamaan mereka ditentukan oleh dominasi, banyaknya penceritaan, dan pengaruhnya terhadap perkembangan plot secara keseluruhan.
Penentuan tokoh utama dalam sebuah cerita dapat dilakukan dengan cara yaitu tokoh itu yang paling terlibat dengan makna atau tema, tokoh itu yang paling banyak berhubungan dengan tokoh lain, tokoh itu yang paling banyak memerlukan waktu penceritaan.
Pembaca dapat menentukan tokoh utama dengan jalan melihat keseringan pemunculannya dalam suatu cerita. Selain lewat memahami peranan dan keseringan pemunculannya, dalam menentukan tokoh utama dapat juga melalui petunjuk yang diberikan oleh pengarangnya. Tokoh utama umumnya merupakan tokoh yang sering diberi komentar dan dibicarakan oleh pengarangnya. Selain itu lewat judul cerita juga dapat diketahui tokoh utamanya (Aminudin, 2002:80).
Diantara salah satu Cara menentukan yang mana tokoh utama dan yang mana tokoh penunjang adalah dengan membandingkan setiap tokoh di dalam cerita. Adapun kriteria tokoh utama adalah: bertindak sebagai pusat pembicaraan dan sering diceritakan, sebagai pihak yang paling dekat kaitannya dengan tema cerita, dan lebih sering melakukan interaksi dengan tokoh lain dalam cerita (Sayuti, 2009:6.6).
Contoh Seperti pada kutipan di awah ini :
Tiba-tiba tampak olehnya pisau belati di sisi Mansur. Darahnya berdebar-debar dan gusarnyapun timbul kembali. Tak percaya ia akan janji saudaranya tadi. Sebab itulah berkata ia: “Kakak, pisau itu baiklah Minah sembunyikan. Minah sebenarnya belum begitu percaya. Hendaklah kita awas sebelum terjadi!”
Mansur tak mengeluarkan kata sepatah juapun.
Laminah mengambil pisau belati itu dari pinggang saudaranya dan diletakannya di bawah  bantal.
Tokeh pada ketika itu sedang makan. Mansur dan Laminah menunggu dimuka pintu dapur.
(STA. Tak Putus Dirundung Malang. Hlm. 128)
Dari kutipan di atas kita bisa menilai bahwa tokoh utamanya adalah Mansur. Kenapa? Karena Mansur merupakan inti pembicaraan di atas. Potongan cerita tersebut ada setelah terjadi perselisihan antara Mansur dengan salah satu pegawai di tempat ia bekerja. Mansur hendak memberi pelajaran kepada orang tersebut, karena ia telah berbuat macam-macam terhadap adiknya. Jadi, sangat jelas inti permasalahnnya ada pada Mansur sendiri. Ia menjadi pusat pembicaraan pada potongan cerita tersebut dan umumnya pada novel tersebut.
Pembedaan antara tokoh utama dan tambahan tidak dapat dilakukan secara eksak pembedaan itu lebih bersifat gradasi, kadar keutamaan tokoh-tokoh itu bertingkat : tokoh utama   ( yang utama ), utama tambahan, tambahan yang memang tambahan hal inilah yang antara lain mengakibatkan orang bisa berbeda pendapat dalam menentukan tokoh-tokoh utama sebuah cerita fiksi.

b.     Tokoh protagonis dan tokoh antagonis
Jika dilihat dari peran tokoh-tokoh dalam pengembangan plot dapat dibedakan dengan adanya tokoh utama dan tokoh tambahan namun dilihat dari fungsi penampilan tokoh, dapat dibedakan kedalam tokoh protagonis dan tokoh antagonis. Membaca sebuah novel, pembaca sering kali mengidentifikasi diri dengan tokoh-tokoh tertentu, memberikan simpati dan empati, melibatkan diri secara emosional terhadap tokoh tersebut. Tokoh yang disampaikan oleh pembaca demikian disebut sebagai tokoh protagonis ( altenbernd & lewis 1996 : 59 )
Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi yang salah satu jenisnya secara popular disebut hero –tokoh merupakan pengejawatan norma-norma, nilai-nilai yang ideal bagi kita         ( altenberd & lewis, 1966 : 59 )  tokoh protagonis menampilkan sesuatu yang sesuai dengan pandangan kita, harapan-harapan kita sebagi pembaca. Maka, kita sering mengenalinya sebagai memiliki kesamaan dengan kita, permasalahan yang dihadapi seolah-olah juga sebagai permasalahan kita, demikian pula halnya dalam menyikapinya
Sebuah fiksi harus mengandung konflik, ketegangan, khususnya konflik dan ketegangan yang dialami oleh toko protagonis yang mana tokoh pemyebab terjadinya konflik adalah toko antagonis. Tokoh antagonis dapat disebut beroposisi dengan tokoh protagonis scara langsung maupun tidak langsung, secara fisik maupun bathin
Konflik yang dialami olah tokoh protagonist tidak harus disebabkan oleh tokoh antagonis seorang individu yang dapat ditunjuk secara jelas. Ia dapat disebabkan oleh hal-hal lain yang diluar individualitas seseorang, misalnya bencana alam kecelakaan, aturan sosial, nilai moral dan sebagainya penyebab konflik yang tidak dilakukan oleh seorang tokoh disebut sebagai kekuatan antagonistis ( altenbernd & lewis, 1996 : 59 )
Menentukan tokoh-tokoh cerita kedalam protagonis dan antagonis kadang-kadang juga tidak mudah, atau paling tidak orang juga dapat berbeda pendapat tokoh yang mencerminkan harapan atau norma ideal kita memang dapat dianggap sebagai tokoh protagonis namun tidak jarang ada tokoh-tokoh yang tidak membawakan nilai-nilai moral kita atau yang berdiri dipihak sana justru yang diberi simpati dan empati oleh pembaca. Jika terdapat tokoh yang berlawanan, tokoh yang lebih banyak diberi kesempatan untuk mengemukakan visinya itulah yang kemungkinan besar memperoleh simpati dan empati dari pembaca ( lexemburg dkk, 1992 : 145 )
Pembedaan antara tokoh utama dan tokohg tambahan dengan tokoh protagonis dan tokoh antagonis saling digabungkan, sehingga menjadi tokoh utama protagonis, tokoh utama antagonis, tokoh tambahan protagonis dan tokoh tambahan antagonis. Pembedaan secara pasti antara toko utama protagonis dan toko utama antagonis juga sering tidak mudah dilakukan, pembedaan itu sebenarnya lebih bersifat penggradasian  




c.     Tokoh sederhana dan tokoh bulat
Berdasarkan perwatakanya tokoh cerita dapat dibedakan kedalam tokoh sederhana ( flat character ) dan tokoh kompleks atau tokoh bulat ( round character ) perbedaan tersebut berasal dari forster dalam bukunya aspect of the novel yang terbit pertama kali 1927 pembedaan tokoh kedalam sederhana dan kompleks ( forster, 1970 : 75 ) tersebut kemudian menjadi sangat terkenal hampir semua buku sastra yang membicarakan tentang penokohan, tidak pernah lupa menyebut pembeda itu, baik secara langsung menyebut nama forster maupun tidak. Pengkategorian seorang tokoh   kedalam sederhana atau bulat haruslah di dahului dengan analisis perwatakan.
Tokoh sederhana. tokoh sederhana dalam bentuk yang asli adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas pribadi tertentu ( mempunyai satu sifat watak yang tertentu saja ) sebagai tokoh seorang manusia, ia tidak diungkap berbagai kemungkinan sisi kehidupanya. Ia tak memiliki tingkah laku yang dapat memberikan sifat dan efek kejutan bagi pembaca sifat dan tingkah laku seorang tokoh yang sederhan bersifat datar, monoton karna hanya mencerminkan satu watak tertentu saja. Watak yang telah pasti itulah yang mendapat penekanan dan terus menerus terlihat dalam fiksi yang bersangkutan perwatakan tokoh yang sederhana dan benar-benar sederhana dapat dirumuskan hanya dalam sebuah kalimat atau bahkan sebuah frase saja misalnya “ ia seorang yang miskin tetapi jujur “ atau ia seorang yang kaya tetapi kikir “
Tokoh sederhana dapat juga melakukan berbagai tindakan namun semua tindakanya itu akan dapat dikembalikan pada perwatakan yang dimiliki dan yang telah diformulakan itu. Dengan demikian pembaca akan dengan mudah memahami watak dan tingkah laku tokoh sederhana. ia mudah dikenal dan dipahami, lebih familiar dan cenderung streotip. Tokoh sebuah fiksi yang bersifat familiar, sudah biasa atau yang stereotip memang dapat digolongkan sebagai tokoh-tokoh yang sederhana ( Kenny : 1966 : 28 ) berhadapan dengan tokoh-tokoh sebuah karya fiksi, mungkin sekali kita merasa seolah-olah telah mengenal, telah akrab atau telah biasa denganya padahal sebenarnya yang telah kita kenal adalah perwatakan, tingkah laku, tindakan atau pribadinya yang memiliki kesamaan pola dengan watak dan  tingkah laku tokoh cerita novel yang telah kit abaca sebelumnya tokoh cerita yang demikian adalh tokoh cerita yang bersifat stereotip, klise.
Tokoh-tokoh cerita pada novel-novel Indonesia dalam awal perkembanganya pada umumnya berupa tokoh sederhana, tampak hanya mencerminkan pola atak tertentu saja misalnya tokoh siti nurbaya, samsul bahri dan datuk maringgi dalam siti nurbaya , hanafi corri dan rafiah dalam salah asuhan dan lain-lain itu boleh dikatakan bahwa tokoh-tokoh tambahan dalam sebuah fiksi, rata-rata merupakan tokoh sederhana. hal itu mudah dimengerti sebab mereka tak banyak diceritakan sehingga tidak memiliki banyak kesempatan untuk diungkapkan dalam berbagai sisi kehidupan
Tokoh bulat. Tokoh bulat, kompleks berbeda halnya dengan tokoh sederhana. tokoh bulat ini merupakan tokoh yang diungkapkan oleh pengarang dari berbagai sisi kehidupanya, sisi kepribadian dan jati dirinya ia dapat saja memiliki watak tertentu yang dapat diformulasikan, namun ia juga dapat menampilkan watak dan tingkah laku yang bermacam-macam bahkan seperti bertentangan dan sulit di duga. Oleh karna itu perwatakanya pun sulit untuk dideskripsikan ssecara tepat dibandingkan dengan tokoh sederhana, tokoh bulat lebih menyerupai kehidupan manusia yang sesungguhnya, karena disamping memiliki berbagai kemungkinan sikap dan tindakan, ia juga sering memberikan kejutan ( abrams, 1981 : 20-1 )
Tokoh kompleks, dengan demikian sulit dipahami terasa kurang familiar karna yang ditampilkan adalah tokoh-tokoh yang kurang akrab dan kurang dikenal sebelumnya. Tingkah lakunya sering tidak terduga dan sering memberikan efek kejutan kepada pembaca namun berbeda halnya dengan relitas kehidupan manusia yang tidak konsisten dan tak berplot unsur-unsur kejutan yang ditampilkan oleh tokoh cerita haruslah dapat dipertanggung jawabkan dari segi plausibilitas cerita, sebab cerita fiksi memang mengandung plot ia harus logis sesuia dengan tuntunan koherensi cerita yang mengaharuskan adanya pertautan logika sebab akibat jadi misalnya : guru isa yang sebelumnya diceritakan sebagai manusia yang penakut, kemudian berubah menjadi tidak penakut lagi. Perubahan itu harusnya tidak terjadi begitu saja, melainkan harus ada sebab-sebab khusus yang harus dipertanggung jawabkan dari segi plot. Berhubung permasalahan atau konfliks guru isa lebih merupakan permasalahan kejiwaan “ pertanggung jawaban “ itupun yang menyangkut permasalahan kejiwaan pula. Demikian halnya dengan perubahan-perubahan sikap dan tindakan teto dalam burung-burung manyar, dari sikap cinta terhadap orang Indonesia, berubah menjadi sikap dan perbuatan memusuhi dan berubah lagi menjadi mencintai dan bahkan mau membela kepentinganya dengan penuh tanggung jawab.
d.     Tokoh statis dan tokoh berkembang  
Berdasarkan kriteria berkembang atau tidaknya perwatakan tokoh-tokoh cerita dalam sebuah novel tokoh dapat dibedakan kedalam  tokoh statis, tidak berkembang ( static character )  dan tokoh berkembang ( developing character )
 tokoh statis adalah tokoh yang secara esensial tidak menagalami perubahan atau perkembangan perwatakan sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi ( altenbernd & lewis, 1966 : 58 ) tokoh jenis ini Nampak seperti kurang terlibat dan tak terpengaruh oleh adanya perubahan-perubahan lingkungan yang terjadi karena adanya hubungan antar manusia jika diibaratkan tokoh statis bagaikan batu karang yang tidak tegoyahkan walau setiap hari dihantam dan disayang ombak. Tokoh statis memiliki sikap dan watak yang relative tetap tidak berkembang sejak awal hingga akhir cerita
tokoh berkembang, dipihak lain adalh tokoh cerita yang mengalami perkembangan dan perubahan perwatakan, sejalan dengan perkembangan peristiwa dan plot yang dikisahkan, ia secara aktif berinteraksi dengan lingkunganya, baik lingkungan sosial, alam maupun yang lainya yang kesemuanya itu akan mempengaruhi sikap, watak, dan tingkah lakunya. Adanya perubahan-perubahan yang terjadi diluar dirinya, dan adanya hubungan antar manusia yang memang bersifat saling mempengaruhi itu, dapat menyentuh kejiwaanya dan dapat menyebabkan terjadinya perubahan dan perkembangan sikap dan wataknya. Sikap dan watak tokoh berkembang, dengan demikian akan mengalami perkembangan dan perubahan dari awal, tengah dan ahir cerita sesuai dengan tuntunan koherensi cerita secara keseluruhan    
dalam penokohan yang bersifat statsi dikenal dengan adanya tokoh hitam ( dikontasikan sebagai tokoh jahat ) dan putih ( dikontasikan sebagai tokoh baik ). Tokoh yang statis hitam atau statis  putih artinya tokoh-tokoh tersebut sejak awal kemunculanya hingga akhir cerita terus menerus bersifat hitam atau putih, yang hitam tak pernah berunsur putih dan yang putih pun tak pernah diungkapkan unsur kehitamanya. Tokoh hitam adalah tokoh yang benar-benar hitam yang seolah-olah telah tercetak secara demikian dan yang tampak hanyalah sikap dan tingkah laku jahatnya tidak pernah diungkapkan unsur-unsur kebaikan dalam dirinya walau sebenarnya pasti ada sebaliknya tokoh putih juga seolah-olah telah tercetak selalu saja baik dan tak pernah berbuat sesuatu yang tergolong tidak baik walau  pernah sekali atau dua kali berbuat tidak baik
tokoh hitam putih biasanya akan cepat menjadi streotip karna sebenarnya mereka merupakan pengejawatan ajaran moral kita yang bersifat baik-buruk dan streotip juga mudah dikenal sebagai tokoh atau symbol tertentu misalnya tokoh samsul bahri dan datuk maringgih masing-masing adalah symbol dari tokoh putih yang berwatak baik dan tokoh hitam yang berwatak jahat samsul adalah tokoh yang benar dan semua tingkah lakunya pun dianggap benar, sedangkan datuk maringgih adalah tokoh jahat, pembuat dan pelaku berbagi tindak kejahatan dan semua perbuatanya pun dianggap sebagai sesuatu yang selalu jahat
perbedaan antara tokoh statis dan tokoh berkembang kiranya dapat dihubungkan dengan pembedaan tokoh sederhana dan kompleks. Tokoh statis, entah hitam entah putih, adalah tokoh yang sderhana, datar karna ia tidak diungkap dari berbagai sisi kehidupanya. Ia hanya memiliki satu kemungkinan watak saja dari awal hingga akhir cerita. namun Tokoh berkembang sebaliknya akan cenderung menjadi tokoh yang kompleks, hal itu disebabkan karena adanya perkembangan dan perubahan  sikap watak dan tingkah lakunya itu dimungkinkan sekali dapat terungkapkanya berbagai sisi kejiwaanya sebagaimana halnya dengan tokoh datar, tokoh statis pun kurang mencerminkan kehidupan manusia, namun juga sebagaimana halnya pembedaan antara tokoh sederhana dengan tokoh kompleks yang lebih bersifat penggradasian pembedaan antara tokoh statis dan berkembang inipun kurang lebih sama lebih bersifat penggradasian artinya diantara dua titik pengontrasan itu ada tokoh yang memiliki kecenderungan kesalah satu kutub, tergantung tingkat intensitas perkembangan sikap, watak dan tingkah laku.

e.     Tokoh tipikal dan tokoh netral
Berdasarkan kemungkinan pencerminan tokoh cerita terhadap ( sekelompok ) manusia dari kehidupan nyata, tokoh cerita dapat dibedakan kedalam tokoh tipikal ( typical character ) dan tokoh netral ( neutral character ) tokoh tipikal adalah tokoh yang hanya sedikit ditampilkan keadaan individualitasnya, dan lebih banyak ditonjolkan kualitas pekerjaanya atau kebangsaanya ( altenbernd & lewis, 1996 : 60 ), atau sesuatu yang lain yang lebih bersifat mewakili. Tokoh tipikal merupakan penggambaran, pencerminan, atau penunjukan terhadap orang  atau sekelompok orang yang terikat dalam sebuah lembaga, atau seorang individu sebagai bagian dari suatu lembaga yang ada di dunia nyata. Penggambaran itu tentu saja  brsifat tidak langsung dan tidak menyeluruh justru pihak pembacalah yang menafsirkanya secara demikian berdasarkan pengetahuan, pengalaman dan persepsinya terhadap tokoh di dunia nyata dan pemahamanya terhadap tokoh cerita di dunia fiksi
Tokoh netral, dipihak lain adalah tokoh cerita yang berinteraksi demi cerita itu sendiri. Ia benar-benar merupakan tokoh imajiner yang hanya hidup dan bereksistensi dalam dunia fiksi ia hadir ( dihadirkan ) semata-mata demi cerita atau bahkan ialah pelaku cerita yang diceritakan kehadiranya tidak berpretensi untuk mewakili atau menggambarkan sesuatu yang diluar dirinya, seseorang yang bersal dari dunia nyata atau paling tidak pembaca mengalami kesulitan untuk menafsirkanya sebagai bersifat mewakili berhubung kurang ada unsur bukti pencerminan dari kenyataan di dunia nyata
Penokohan cerita secara tipikal pada hakikatnya dapat dipandang sebagai reaksi, tanggapan, penerimaan, tafsiran pengarang terhadap tokoh manusia di dunia nyata tanggapan itu mungkin bersifat negative seperti seperti terlihat dalam karya yang bersifat menyindir, kritikual namun juga sebaliknya ia juga bersifat positif seperti yang terasa dalam nada yang memuji-muji, tanggapan juga dapat bersifat netral artinya pengarang melukiskan sepoerti apa adanya tanpa disertai sikap subjektivitasnya sendiri yang cenderung memihak
Penokohan  yang tipikal ataupun bukan berkaitan erat dengan makna intentional meaning  maka intensional makna yang tersirat yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca melalui tokoh tipikal itu pengarang tidak sekedar memberikan reaksi atau tanggapan melainkan memperlihatkan sikapnya terhadap tokoh, permasalahan tokoh, atau sikap dan tindakan tokohnya itu sendiri
Penyebutan “ guru  “ dalam nama guru isa pada jalan tak ada ujung, dapat ditafsirkan bahwa itu adalah took tipikal, tipikal bagi para guru atau paling tidak oleh pengarang dimaksudkan demikian sesuai dengan persepsinya terhadap seorang guru yang berhati lembut, cinta damai, tidak suka kekerasan, bertanggung jawab jika berhadapan dengan sesuatu yang tidak  sesuia dengan kata hatinya mudah terguncang, mislanyamenjadi penakut dan hal itu kemudian menyebabkan impotensi pada dirinya, namun apakah selemah itukah orang yang berstatus sebagai guru itu ? peristiwa guru isa mencuri buku dikantor untuk dijual karena desakan ekonominya itu barang kali juga merupakan suatu kejadian yang has ( tipikal ) yang mungkin sekali dapat dialami orang di dunia nyata.
Tokoh tipikal dalam sebuah novel mungkin hanya seorang atau beberapa orang saja misalnya tokoh utama ataupun tokoh tambahan. Ketipikalan seorang tokoh tidak harus meliputi seluruh kedirianya, bahkan yang demikian justru mustahil, mungkin hanya beberapa aspek yang menyangkut kedirianya misalnya reaksi dan sikapnya terhadap suatu masalah atau konflik yang dihadapi tokoh itu sendiri, tutur kata dan tindakan kejadian tertentu dan sebagainya.
Dipihak lain, juga terlihat bahwa unsur ketipikalan dalam novel tidak hanya menyangkut masalah penokohan saja, melainkan juga dapat melibatkan unsur-unsur cerita yang lain misalnya yang menyangkut pokok permasalahan cerita yaitu tema, plot dan berbagai aspek peralatan.
Namun mengingat bahwa fiksi adalah karangan imajiner yang bertujuan artistic, pengangkatan hal-hal tertentu yang secara jelas bersifat tipikal, justru mengurang kadar kelitereran karya yang bersangkutan barang kali sastra populerlah yang lebih menunjukkan adanya unsur ketipikalan itu berhubung karya jenis itu lebih bersifat memotret emosi-emosi secara sesaat apa adanya, untuk itu kiranya perlu dipahami antara kesepertihidupan dengan ketipikalan. Kesepertihidupan sekedar menyaran bahwa tokoh cerita itu memiliki ciri kehidupan insani yang dapat berlaku dan terjadi di dunia nyata, walau sendiri tidak pernah ada dan terjadi. Ketipikalan, dipihak lain tidak sekedar menunjukkan bahwa ia memiliki sifat kehidupan, melainkan memang terdapat tokoh yang bersikap, bersifat, bertindak, masalah kejadian dan lain-lain yang diceritakan dalam novel itu yang mempunyai ciri-ciri persamaan dengan yang ada di dunia nyata. Dengan demikian tokoh tipikal pasti mempunyai sifat keseperti hidupan sedangkan tokoh yang lifelike belum tentu merupakan tokoh yang tipikal    





3.      TEKNIK PELUKISAN TOKOH
Tokoh-tokoh cerita seperti yang telah di kemukakan di atas, tidak akan begitu saja secara serta merta hadir kepada pembaca, mereka memerlukan sarana yang memungkinkan kehadiranya sebagai bagian dari karya fiksi yang bersifat menyeluruh dan padu sserta mempunyai tujuan artistic, kehadiran dan pengahadiran tokoh-tokoh itu haruslah dipertimbangkan dan tidak lepas dari tujuan tersebut maslah penokohan dalam sebuah karya tidak semata-mata berhubungan dengan masalah pemilihan jenis dan perwatakan pada tokoh cerita saja, melainkan juga bagai mana cara melukiskan kehadiran dan penghadiranya secara tepat sehingga mampu menciptakan dan mendukung tujuan artistik karya yang bersangkutan. Kedua hal tersebut sebagaimana kaitanya antara berbagai elemen fiksi, saling mendukung dan saling melengkapi
Secara garis besar teknik pelukisan tokoh dalam suatu karya atau lengkapnya : pelukisan sikap, watak, sifat, tingkah laku dan berbagai hal lain yang berhubungan dengan jati diri tokoh dapat dibedakan ke dalam dua cara atau teknik yaitu teknik uraian ( telling ) dan teknik ragaan     ( showing ) ( abrams, 1981 : 21 ) atau teknik penjelasan, ekspositori ( expository ) dan teknik dramatik ( dramatic ) ( altenbernd & lewis 1966 : 56 ) atau teknik diskursif  ( discursive ), dramatic dan konstektual (  Kenny, 1966 :  34-6 ) teknik yang pertama juga pada yang ke dua, walaupun terdapat perbedaan istilah, namun secara esensial tidak berbeda menyarankan pada pelukisan secaralangsung sedangkan pada pelukisan kedua scara tidak langsung.
Berikut penjelasan kedua teknik tersebut secara rinci
a.     Teknik ekspositori
Teknik eksplositori sering juga disebut sebagai teknik analitis, yaitu pelukisan tokoh cerita dilakukan dengan memberikan diskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung. Tokoh cerita hadir dan dihadirkan oleh pengarang ke hadapan pembaca secara tidak berbelit-belit, melainkan begitu saja dan langsung disertai deskripsi kediriannya yang mungkin berupa sikap, sifat watak, tingkah laku atau bahkan ciri fisiknya


Contoh dalam kutipan novel “ sekali peristiwa di banten selatan “
Dua orang pemikul singkong, yang hendak menuju ke tempak truk-truk dari kota memunggah singkong, muncul dari tikungan jalan. Bawaannya begitu beratnya sehingga pikulan mereka Nampak melengkung. Kedua-duanya bercelana hitam sedikit di bawah lutut. Mengikatkan sarung pada pinggang masing-masing dan bertopi capio, sedang pada pinggang mereka tersandang kasang dari bambu anyaman.
(hlm. 12)
b.     Teknik dramatis
Penampilan tokoh cerita dalan teknik dramatik dilakukan secara tidak langsung. Artinya, pengarang tidak mendeskripsikan secara eksplisit sifat dan sikap serta tingkah laku tokoh. Pengarang membiarkan para tokoh cerita untuk menunjukkan kediriannya sendiri melalui berbagai aktivitas yang dilakukan, baik secara verbal lewat kata maupun nonverbal lewat tindakan atau tingkah laku dan juga melalui peristiwa yang terjadi
Contoh :
Jimbron yang tambun dan invalid—kakinya panjang sebelah—terengah-engah di belakangku. Wajahnya pias. Dahinya yang kukuh basah oleh keringat, berkilat-kilat. Di sampingnya, Arai, biang keladi seluruh kejadian ini, lebih menyedihkan. Sudah dua kali ia muntah. Ia lebih menyedihkan dari si invalid itu. Dalam situasi apapun, Arai selalu menyedihkan.
(Andrea Hirata. Sang Pemimpi. Hlm. 2)
Pengarang berusaha menggambarkan tokoh lain dalam cerita melalui tokoh “Aku”. Sangat jelas disebutkan bahwa keadaan fisik salah satu temannya—Jimbrong—tidak sepertihalnya orang normal. Salah satu kakinya melebihi panjang kakinya yang lain. Selain itu, ia juga menjelaskan watak tokoh lainnya—Arai. Ia bisa menyimpulkan bahwa temannya yang ini selalu terlihat selalu tegang dan ketakutan ketika dalam keadaan tersudutkan. Dibuktikan melelui tindakannya yang muntah ketika dalam keadaan tersudutkan.

Wujud penggambaran teknik dramatik dapat dilakukan dengan sejumlah teknik, di antaranya adalah :
1.      Teknik cakapan
Percakapan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh cerita biasanya juga dimaksudkan untuk menggambarkan sifat-sifat tokoh yang bersangkutan. Bentuk percakapan dalam sebuah karya fiksi khususnya novel umumnya cukup banayak, baik percakapan yang pendek maupun percakapan yang agak panjang.
Contoh :
“ tetap mayor ……. Perkenankanlah aku menguraikan duduk perkaranya “
“ saya tidak tertarik dengan segala uraian mu anak muda yang jalas ini : nona …( ia melihat lagi kedalam map tadi ) larasati adalah salah seorang anggota secretariat itu si perdana mentri amatir sutan syahrir. Dan rumahnya di kramat VI, persis di dalam rumah yang sering kau kunjungi, jadi … jadi apa kelinci kecil ? jadi setiap orang yang normal dalm situasi perang pasti akan menaruh syak kepada siapapun yang tanpa mendapat perintah keluyuran sendirian ke satu alamat yang ia rahasiakan "
“ tetapi aku bukan orang republik. Soal ku dengan gadis itu hanyalah pribadi saja keluarga merekalah yang menolong kami dalam penduduk jepang “ ( mayoor verbruggen tertawa keras dan ironis )
“ ha ha ha …… ini dia hanya kenalan biasa. Mana ada orang yang punya susu-susu montok kok kenalan biasa. Tentu montok pasti gadis mu apalagi anunya …… lalu “
“ diam ! potong ku “   kamu disini sebagai komandan militer, bukan komandan urusan pribadi “
“ hei hei hei….. tenang-tenang “ ( tetapi aku terlanjur naik pitam )
“ kau boleh menembak aku sebagai mata-mata tetapi memperolokkan gadis yang satu ini ku larang. Ku larang “
“ tenang tenang……… sudah ……”
“ aku tidak rela kalau….. ( tetapi vebrugen berganti berteriak dan gelas-gelas jatuh pada pukulan kepalanya pada meja )
“ diam ! berdiri tegak kaukelinci dimuka komandan di medan perang “
( burung-burung manyar, 1981 : 70-1 )
Sepotong kutipan dialog kiranya sudah dapat menggambarkan sifat kedirian tokoh pelakunya kepada pembaca. Kita dapat menafsirkan bahwa teto / leo mempunyai sifat pemberani dan juga keras kepala untuk mempertahankan dirinya sekalipun ia berhadapan dengan komandan militernya dan ia juga bersifat setia kepada orang lain, mau mebela nama baik orang lain.
2.      Teknik tingkah laku
Teknik tingkah laku menyaran pada tindakan yang bersifat nonverbal, fisik. Apa yang dilakukan orang dalam wujud tindakan dan tingkah laku dapat dipandang sebagai menunjukkan reaksi tanggapan, sifat, dan sikap yang mencerminkan sifat-sifat kediriannya.
Contoh :
Sudah lima kali ini aku ke keramat, dan masuk menyelinap melalui pintu dapur. Sesudah kunjungan yang kedua kali pintu dapur terkunci cemat, tetapi surat atik belum ku jawab. Aku takut kunci masih terletak di dalam lubang dinding sepertia ada dahulu. Seorang diri aku datang, dalam waktu istirahat bebas dinas untuk ketiga kalinya hanya untuk duduk-duduk saja di serambi belakang. Dan melamun sebab sesudah segala peristiwa yang menimpa diriku, aku semakin benci bertemu orang. Hanya dengan mayor vebruggen aku masih dapat berdialog sebab bagaimanapun dengan mayor petualang itu aku masih mempunyai ikatan intim dengan masa lampau ku
            Bangkai-bangkai burung kesayangan atik teal ku ambil, ku kubur dengan segala dedikasi. Kurungan-kurungan telah kubersihkan. Dan sayu aku teringat, betapa sayang si atik kepada burung-burungnya
( burung-burung manyar, 1981 : 75 )

3.      Teknik pikiran dan perasaan
Pikiran dan perasaan, serta apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh tokoh dalam banyak hal akan mencerminkan sifat-sifat kediriannya juga. Bahkan pada hakikatnya, pikiran dan perasaannyalah yang kemudian diejawantahkan menjadi tingkah laku verbal dan nonverbal.
Contoh :
            “ bu, tun bukan perawan lagi “
            Sri diam menatap anaknya, aneh sekali pada perasaanya sri mulutnya ada mengatakan      gusti nyuwun ngapuro  tetapi kenapa tidak terdengar, pikir sri. Tau-tau ia hanya mengelus kepala anaknya. Sri ingat peringatan orang tua-tua jawa yang sering mengatkan bahwa dalam suatu tempat pengeraman itu hanya ada satu atau dua telur  yang rusak. Tetapi bila dalam tempat pengeraman itu hanya terdapat satu telur dan rusak juga bagaimana ? di dalam hati ia menggelengkan kepala. Tanganya terus mengelus anaknya, sedang hatinya masih terus mencoba menghayati kejadian itu.
( sri sumarah dan bawuk, 1975 : 26-7 )   

4.      Teknik arus kesadaran
Arus kesadaran merupakan sebuah teknik narasi yang berusaha menangkap pandangan dan aliran proses mental tokoh, dimana tanggapan indera bercampur dengan kesadaran dan ketidaksadaran pikiran, perasaan, ingatan, harapan, dan asosiasi-asosiasi acak (Abrams dalam Nurgiyantoro 1995:206).
Contoh :
Kelak aku baru tahu bahwa, memiliki saat itu hanya berarti ingin memperkosa atik agar dimasuki oleh dunia ku, oleh gambaran hidup ku tanpa bertanya ia mampu atau tidak. Dan sesudah sadar bahwa itu tidak mungkin kudobraki dunia ku dan aku hanya bisa menangis, memang aku masih terlalu muda, terlalu kurang mengenali dunia sekeliling ku atik jelas bukan adik ia praktis pengganti mami ku itu aku menangis, tolol dan menjijikkan. Aku memang merasa malu sebab sikap lelaki begitu nyaris berwarna cabul. Tapi apa yang dapat ku kerjakan ? ! biar kepada siapapun aku boleh malu tetapi kepada atik aku sanggup telanjang dan di telanjangi. Sebab kalau orang tidak sanggup itu, pada suatu orang saja secara mutlak bugil, tak akan pernahlah orang bisa punya pegangan. Terhadap atik aku ikhlas malu dan dipermalukan.
( burung-burung manyar, 1981 : 79 )
5.      Teknik reaksi tokoh
Teknik reaksi tokoh dimaksudkan sebagai reaksi tokoh terhadap suatu kejadian, masalah, keadaan, kata, dan sikap tingkah laku orang lain, dan sebagainya yang berupa rangsangan dari luar diri tokoh yang bersangkutan.
Contoh :
Tiba-tiba anak muda itu mengerang dan untuk kedua kalinya, sri tidak sanggup mencegah dekapan dan rangkulanya. Tanganya yang kuat-kuat itu begitu saja sudah merebahkanya keatas dadahnya dan seperti kemarinya tangan itu mulai mengelus-elus rambut, sanggul dan punggung sri, serta bibirnya mulai mengoles-oles dahi, pelipis serta telinga sri dan seperti kemarin juga sri membiarkanya begitu
( sri sumarah dan bawuk, 1975 : 77 )

6.      Teknik reaksi tokoh lain
Contoh :
Tetapi atik sadar tidak segampang itu perkaranya. Kesalahan teto hanyalah mengapa soal keluarga dan pribadi ditempatkan langsung di bawah sepatu lars politik dan militer, kesalahan teto hanyalah ia lupa bahwa  yang disebut dengan penguasa jepang atau pihak belanda atau bangsa Indonesia dan sebagainya itu baru istilah gagasan abstraksi yang masih membutuhkan kongkretisasi darah dan daging, siapa bangsa jepang ?
            Yang menodai bu kapten bukan banggsa jepang, tetapi ono atau harshima dank arena kelaliman ono atau harasima lah seluruh bangsa jepang dan kaum republic yang dulu memuja-muja jepang di kejar-kejar. Pak lurah dan mbok sawitri yang mengepalai dapur umum di desa, serta pak trunya yang dulu menolong pak antana tidak ikut-ikutan dengan kekejian ono tetapi kesalahan semacam itu apalah artinya bagi larasati. Teto tetap teto dan bukan oihak KNILL
( burung-burung manyar 1981 : 144 )   

7.      Teknik pelukisan latar
Suasana latar sekitar tokoh juga sering dipakai untuk melukiskan kediriannya. Pelukisan suasana latar dapat lebih mengintensifkan sifat kedirian tokoh.

8.      Teknik pelukisan fisik
Keadaan fisik seseorang sering berkaitan dengan keadaan kejiwaannya, atau paling tidak pengarang sengaja mencari dan memperhubungkan adanya keterkaitan itu. Misalnya, bibir tipis menyaran pada sifat ceriwis dan bawel.
Disamping kedua teknik pelukisan tokoh tersebut, yang telah dijelaskan di atas para ahli juga ada yang menambahkan teknik campuran sebagai salah satu teknik pelukisan tokoh Artinya penggambaran tokoh menggunakan dua cara sekaligus, secara langsung dari pengarang itu sendiri ataupun melalui tokoh lain. Hal tersebut bisa dicermati pada kutipan di bawah ini :
… Mbok Ralem keluar sambil membopong anaknya yang pucat dan batuk. Perempuan itu terkejut melihat siapa yang datang. Darah lenyap dari wajahnya, bibirnya bergetar. Pambudi duduk di balai-balai bambu.
“Mob Ralem, kau tak perlu takut seperti itu.”
“Anu, anu… anu, Nak.”
“Anu apa, Mbok?”
“Aku takut kau membawa perintah dari Lurah untuk menghukumku. Kemarin dulu sebelum aku meninggalkan Balai Desa kudengar Pak Lurah marah-marah. Pastilah gara-gara aku, bukan?”
(Ahmad Tohari. Di Bawa Kaki Bukit Cibalak. Hlm. 29)
Dari kutipan di atas kita bisa melihat bagaimana pengarang menggunakan kedua metode dalam menggambarkan tokohnya. Metode yang pertama yaitu, Metode Diskursif. Hal tersebut dapat diketahui melalui potongan cerita langsung dari pengarang, “Perempuan itu terkejut melihat siapa yang datang. Darah lenyap dari wajahnya, bibirnya bergetar”, yang menunjukan keadaan Mbok Ralem yang takut akan kedatangan Pambudi. Keadaan tersebut diperkuat dengan dialog yang terjadi antara Pambudi dan Mbok Ralem sendiri yang menyatakan kalau Mbok Ralem sedang ketakutan. Artinya, pengarang merasa kurang puas ketika hanya menggambarkan kondisi tokoh di dalam ceritanya melalui tuturannya secara langsung. Pengarang mencoba menyakinkan bagaimana keadaan tokoh dalam ceritanya dengan menggunakan pandangan atau pemikiran tokoh lain dalam cerita tersebut.
Catatan
Perwatakan tokoh biasanya terikat pada tema dan setting cerita dalam sebuah karya fiksi. Jika ceritanya bertemakan perjuangan zaman penjajahan, otomatis tokoh protagonisnya juga akan berwatak seorang pejuang yang penuh semangat, pembarani, memiliki pemikiran matang dan progresif. Begitupun sebaliknya, tokoh antagonisnya pun tentu bersifat lebih berani dan lebih kejam dari pada cerita-cerita fiksi yang bertemakan romantisme. Jika tema dan settingnya tentang kehidupan sehari-hari yang lebih cenderung menitikberatkan pada segi romantisme, tokoh pada karya fiksinya juga berwatakkan sepertihalnya orang-orang baik pada umumnya (stereotip), ramah tamah, suka menolong. Dan sebaliknya pula, tokoh antagonisnya akan lebih lemah kadar keantagonisannya jika dibandingkan dengan tokoh antagonis pada karya fiksi yang bertemakan perjuangan. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan novel berikut ini:
“Ya. Tetapi kita mesti menang.”
“Belanda berkata begitu pula. Tidak bisakah didapat penyelesaian yang lain? Di mana kita dan Belanda sama-sama menang?”
“Maksudmu?”
“Penyelesaian kalah dan menang untuk sesuatu pihak bukan penyelesaian yang sebenarnya. Itu hanya penyelesaian sementara. Sementara yang kalah tetap lemah dari yang menang. Tetapi jika yang kalah telah merasa kuat lagi untuk melawan, pasti dia akan bangun dan tegak dan melawan kembali. Dan semua akan berulang kembali, hingga ada pula yang menang dan yang kalah. Tidak bisakah didapat penyelesaian di mana kedua belah pihak menang? Maksudku kemenangan nilai-nilai manusia. Kemenangan pikiran dan perasaan manusia. Kemenangan manusia melawan nafsu kasar dirinya sendiri. Kemenangan kebaikan melawan kejahatan.”

(Mochtar Lubis. Tidak Ada Esok. Hlm. 180-181)
Pernyataan mengenai keterikatan tokoh dengan tema juga dapat dilihat pada Novel Laskar Pelangi. Suasana yang ada pada novel tersebut adalah suasana perjuangan dalam hal pendidikan. Itu dibuktikan dengan pernyataan tokoh utama “Aku” yang menggambarkan rasa semangat teman-temannya dalam hal pendidikan, seperti pada kutipan di bawah ini:
Pada kesempatan lain Lintang mempresentasikan percobaan memunculkan arus listrik dengan menggerak-gerakkan magnet secara mekanik dan menjelaskan prinsip-prinsip kerja dinamo. Mahar memperagakan cara membuat sketsa-sketsa kartun dan cara menyusun alur cerita bergambar. Lintang menjelaskan aplikasi geometri dan aerodinamika dalam mendesain layangan, Mahar menceritakan kisah yang memuakau tentang bangsa-bangsa yang punah. Pernah juga Lintang menyusun potongan-potongan kaca yang dibentuk cekung seperti parabola dan menghadapkannya ke arah matahari agar mendapatkan suhu yang sangat tinggi, rancangan energi matahari katanya.
Sebaliknya Mahar tak mau kalah, ia menggotong sebuah meja putar dan mendemonstrasikan seni membuat gerabah yang indah, teknik-teknik melukis gerabah itu dan mewarnainya. Lintang memperagakan cara kerja sekstan dan menjelaskan beberapa perhitungan matematika geometris dengan alat itu, Mahar membaca puisi yang ditulisnya sendiri dengan judul Doa dan dibawakan secara memukau dengan gaya tilawatil Qur’an, belum pernah aku melihat orang membaca puisi seperti itu.

(Hlm. 141-142)
Aktifitas yang dilakukan teman-teman Ikal menunjukan bahwa mereka sangat bersemangat dalam menuntut ilmu. Keadaan ekonomi dan sebagainya tidak mempengaruhi keseriusan mereka. Bahkan, mereka bisa membuktikan kalau mereka juga bisa seperti anak-anak lain yang lebih beruntung dalam hal menuntut ilmu. Lintang dengan kemampuan dalam bidang eksaknya, Mahar dalam bidang seni dan sastranya mampu membuka mata pembaca bahwasannya keadaan ekonomi tidak mempengaruhi semangat belajar mereka.
Kutipan kedua novel di atas menjelaskan bahwa tokoh protagonis adalah tokoh yang tidak mengenal sifat-sifat yang dimiliki tokoh antagonis. Tokoh-tokoh protagonisnya bersifat sepertihalnya pahlawan menurut konteks temanya masing-masing, tokoh utamanya pada khususnya. Memang terlihat wajar ketika berbicara tentang karya fiksi. Akan tetapi, hal tersebut berkesan berlebihan jika melihat realita yang ada.
Lain halnya dengan kedua novel di atas, Novel Kubah karya Ahmad Tohari justru memberi kesan lain terhadap tokoh utamanya. Karman—tokoh utama dalam Novel Kubah—memang memiliki sifat yang baik. Akan tetapi, pada bagian tertentu ia berubah seolah-olah menjadi tokoh antagonis. Sifatnya mudah terpengaruh, emosional, dan pendendam. Hal tersebut dibuktikan dengan potongan cerita di bawah ini:
“Paman, aku tak mungkin berbaik kembali dengan Haji Bakir, bukan karena hanya soal Rifah. Masih banyak alas an lagi bagiku untuk bersikap seperti itu.”
“Lho… Kenapa?”
“Karena bersikap baik terhadap haji itu sudah tak perlu lagi. Kalau Haji Bakir merasa telah berbuat kebajikan padaku, ia telah memperoleh kembali imbalan yang lebih.”
(Hlm. 96)
Dialog tersebut terjadi antara Karman dan Hasyim, pamannya. Ketika itu Karman merasa telah dibodohi oleh Haji Bakir. Ia merasa diperalat olehnya. Selain itu, ia juga harus menerima kenyataan bahwa Rifah (anak Haji Bakir)—perempuan yang ia cintai—dijodohkan dengan pria lain. Pada saat itu ia juga sedang dihasut oleh pemikiran-pemikiran PKI supaya tidak mempercayai orang-orang seperti Haji Bakir, yang pada dasarnya merekalah yang menghasut Karman. Sehingga Karman akhirnya memutuskan untuk membenci Haji Bakir dan keluarganya. Pembaca seolah-olah bertanya-tanya, “Masa tokoh utama ikut bergabung dan mengembangkan faham PKI yang ditentang bangsa kita? Masa tokoh utama pendendam, dan sebagainya?”
Sebenarnya, pada saat itulah pengarang menggunakan sisi kewajarannya dalam memberi perwatakan terhadap tokoh utama pada novel yang dimaksud. Ia seperti berpesan kepada pembaca bahwa manusia juga memiliki kekhilafan, tidak melulu benar. Artinya, sifat antagonis sementara tokoh utamanya terjadi karena ia memiliki sifat mudah dipengaruhi. Atau mungkin bisa saja pengarang sengaja menjadikan tokoh utama berkesan seperti tokoh antagonis untuk menjadikan konflik yang ada menjadi lebih menarik dan tidak bisa ditebak oleh pembaca. Sehingga memancing emosi pembaca untuk mengetahui lanjutan ceritanya.
Hal yang sama juga digunakan oleh STA dalam karya fiksinya yang berjudul Tak Putus Dirundung Malang. Pada beberapa bagian ceritanya, ia memberi kesan lain terhadap Mansur, tokoh utama dalam karya fiksi tersebut. Seperti pada potongan cerita berikut ini:
Seketika diam ia. Terasa olehnya, bahwa perkataannya itu tak keluar dari sanubarinya. Sebab itulah ia berkata pula: “Tetapi sebaik-baiknya orang yang seruapa itu diajar benar-benar sampai ia jera untuk seumur hidupnya. Jangan ia menyangka, bahwa di dunia ini semuanya dapat dikerjakannya sekehendak hatinya. Cobalah lihat! Kalau didiam-diamkan, sedikit hari lagi semuanya itu diulangnya pula, tak pada kita, pada orang lain.”
(Hlm. 126-127)
Keadaan tersebut terjadi ketika Laminah (adik Mansur) diperlakukan tidak wajar oleh Sarmin, salah seorang pekerja di tempat ia bekerja. Mendengar adiknya diperlakukan demikian, Mansur hendak memberi pelajaran terhadap Sarmin. Padahal adiknya melarangnya untuk melupakan hal tersebut. Kondisi tersebut tentu mejadikan pembaca memberi apresiasi negatif terhadap Mansur, meskipun ia bertindak sebagai tokoh utama. Mansur seolah-olah berubah menjadi seorang yang pendendam dan hendak memutuskan suatu perkara tanpa memperhitungkannya terlebih dahulu. Tentunya sifat demikian sangat kontras dengan sifat seorang tokoh protagonis. Akan tetapi, pengarang mampu menjadikan pertentangan sifat tokoh protagonis tersebut menjadi gambaran mengenai konflik batin yang dialami tokoh utamanya

BAB III
KESIMPULAN
Dari berbagai penjelesan di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut antara  lain
1.      Penokohan merupakan salah satu unsur instrinsik dalam sebuah karya fiksi yang mutlak ada keberadaanya dalam sebuah cerita
2.      Istilah tokoh dan penokohan menunjuk pada pengertian yang berbeda. Istilah tokoh menunjuk pada orangnya, pelaku cerita. sedangkan Penokohan dan karakteristik menunjuk pada penempatan tokoh-tokoh tertentu dengan watak-watak tertentu dalam sebuah cerita.
3.      Penokohan harus terjalin erat dengan berbagai unsur pengembangan dalam sebuah cerita
4.      Tokoh-tokoh cerita dalam sebuah fiksi dapat dibedakan kedalam beberapa jenis penamaan berdasarkan dari sudut mana penamaan itu dilakukan dan juga berdasarkan perbedaan sudut pandang dan tinjauan
5.      Secara garis besar perbedaan tokoh dapat dibagi menjadi beberapa bagian antara lain : tokoh utama dan tokoh tambahan, tokoh protagonist dan tokoh antagonis, tokoh sederhana dan tokoh bulat, tokoh statis dan tokoh berkembang, tokoh tipikal dan tokoh netral
6.      Teknik pelukisan  tokoh secara garis besar dapat dibagi menjadi teknik ekspositori dan  teknik dramatik











DAFTAR PUSTAKA

Alisjahbana, Sutan Takdir. 2008. Tak Putus Dirundung Malang. Jakarta: Dian Rakyat.
Hirata, Andrea. 2008. Sang Pemimpi. Jakarta: Bentang.
Sayuti, Suminto A. 2009. Cerita Rekaan. Jakarta: Universitas Terbuka.
Toer, Pramoedya Ananta. 2009. Larasati. Jakarta: Lentera Dipantara
____________________ 2009. Sekali Peristiwa Di Banten Selatan. Jakarta: Lentera Dipantara.
Tohari, Ahmad. 2005. Kubah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
____________ 2005. Di Kaki Bukit Cibalak. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Wiyatmi. 2006. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka.
Nurgiantoro, burhan.2002.teori pengkajian fiksi. Yogyakarta : gadjah mada university press    
Title: tokoh dan penokohan dalam kajian fiksi ; Written by fandi faizal; Rating: 5 dari 5

Tidak ada komentar: